Sabtu, 15 Agustus 2009
Assalamu'alaikum Saudara-saudaraku,
"TAK KAN MELAYU HILANG DI BUMI"...., itulah diantara kata2 yg selalu dikumandangkan oleh rumpun kita melayu.
Sudah puaskah kita dengan kata2 itu...? sudah berhasilkah kita dengan semboyan yang selalu kita agungkan itu ?
Semoga tidak ada kata puas untuk itu.... karena tiada batas waktu dan tempat untuk kata "berhasil"...! mari kita wujudkan semboyan besar pendahulu / leluhur kita dengan karya nyata, tentunya berawal dari membangun diri untuk masa depan negeri-negeri melayu yang “memahami heterogensi kehidupan” lebih baik.
Mungkin saya, mungkin anda, mungkin kita..., adalah termasuk diantara orang-orang melayu yang belum memberikan apa-apa yang berarti untuk negeri melayu....
Bukankah seharusnya setiap kita menjadi "TUAN RUMAH" di negeri sendiri.....?
TUAN RUMAH yang harus mampu berbuat untuk dirinya...
TUAN RUMAH yang tidak menunggu uluran tangan dan bantuan orang lain...
TUAN RUMAH lah yang seharusnya memberikan sesuatu dan bukan mengharapkan belas kasihan dari orang lain...
Berawal dari rasa keprihatinan yang mendalam, ketika menyadari bahwa di dalam keseharian kita masih banyak kita temukan dari kalangan kita sendiri yang enggan menunjukkan jati diri, sehingga mengorbankan kemelayuannya untuk menjadi orang lain..., tak pasti apa sebenarnya yg dicari..., yang hanya menjadikan “MELAYU” seakan hilang di negeri sendiri...
Malukah kita dengan “MELAYU” yang kita miliki...., merasa terhinakah kita dengan “MELAYU” yg ada di dalam diri...? Subhanallah....
Seharusnya mari kita malu dengan topeng-topeng yang merugikan dan merusak diri...!
Mari kita perangi rasa malu dan rasa enggan yg selalu membuat kita rugi...! dan mari kita malu untuk melakukan dan memiliki hal-hal yang membuat kita dicaci...!
Maha Besar karunia Allah kepada kita..., yang telah memberikan begitu banyak nikmatNya..., mari kita syukuri dengan menerima apapun yang datang dariNya...!
Melayu yg dulu dikenal dimana-mana, sekarang jarang terdengar...., jangankan di luar sana... bahkan di bumi yang telah memberi kehidupan kepadanya...!
Mengapa kita tidak saling bergandeng tangan seperti mereka...?
Melalui forum elektronik ini, mudah-mudahan kita bisa saling bertukar informasi dan pikiran, berbagi cerita dan pengalaman hidup serta berbagi kesempatan untuk maju bersama...
Mari kita awali dengan selalu meggunakan “Bahasa Melayu (Bahasa Ibu)” di tengah komunitas kita, meskipun berbeda, namun melayu tetap sama dan memiliki kesamaan.
Bersaing dengan saling menghargai..., berdampingan untuk saling memenuhi.
“DENGAN KARYA MELAYU KENALKAN DIRI...,MAJULAH MELAYU JAYAKAN NEGERI”
Wassalam,
Minggu, 09 Agustus 2009
Siapakah WAN
Assalamu’alaikum Wr Wb,
Hi... “WAN” !, Siapakah Anda ? Siapakah Saya ? Siapakah Kita...?
Mungkin ada yang belum mendengar, ada yang lupa mendengar....
Ada yang terlupa menyampaikan, ada yang tidak tahu apa yang ingin disampaikan....
Ada yang ingin tahu, namun belum ada yang memberitahu....
Maka..., ada yang bertanya tentang siapa dirinya ? Siapa kita ? dari mana asalnya ? dsb....
Sangatlah memprihatinkan ketika seorang anak tidak mengenal orang tua, orang tua tidak lagi peduli kepada anak & cucunya, naif sekali...........
Alhamdulillah, dunia Facebook banyak memberikan hal positif, tentunya apabila kita manfaatkan dengan baik dan benar.
Ketika saya membaca salah satu tulisan di dinding “WAN BERSAUDARA” oleh Ananda / Adinda “WAN JUNITA RAFLAH” yang mempertanyakan asal usul “WAN”, saya sangat terkesan dan ingin sekali berpartisipasi untuk menanggapinya, meskipun tidak memuaskan, namun diharapkan masih berguna bagi kita semua, sebagai langkah awal mencari jati diri yang tidak semestinya hilang begitu saja.
Ketika disebutkan kata / gelar “WAN” yang melekat pada nama seseorang, ada 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, yakni Melayu dan Arab.
Tidak semua assimilasi Melayu-Arab diberikan gelar “WAN”
“WAN” adalah wujud assimilasi dari Bangsawan Melayu-Arab, sama halnya dengan Tengku, Tengku Said / Syarifah, Said / Syarifah.
Sepanjang sejarah assimilasi antara Bangsawan Melayu-Arab yang saya ketahui, ada 4 klas garis keturunan yang dibawakan oleh Bangsawan Arab di kawasan bumi melayu, yakni : Tun Syekh, Syekh, Tun Syayid dan Syayid, yang hasil assimilasinya bergelar Tengku, Tengku Said & Tengku Syarifah, Said & Syarifah dan Wan.
Adapun hasil dari assimilasi dimaksud melahirkan gelar keturunan sbb :
Wanita Bangsawan Melayu + Tun Syekh, keturunannya bergelar Tengku (Laki-laki & Perempuan)
Wanita Bangsawan Melayu + Tun Syayid, keturunannya bergelar Tengku Said (Laki-laki) & Tengku Syarifah (perempuan)
Wanita Bangsawan Melayu + Syayid, keturunannya bergelar Said (Laki-laki) & Syarifah (perempuan)
Wanita Bangsawan Melayu + Syekh, keturunannya bergelar Wan (Laki-laki & Perempuan)
Masing-masing dari keturunan tersebut juga terbagi lagi atas beberapa nama keluarga (persukuan) Arab yang diletakkan di belakang nama (contoh : Alhabsyi, Albanafa’at, Almahfuz, Assyagaf, Almunnawar, dll).
Setiap nama keluarga (persukuan) dimaksud juga menjadi nama keluarga pada hasil assimilasi Melayu-Arab itu sendiri, namun nama keluarga tersebut sangat jarang digunakan.
Contoh :
Saya bernama WAN ZALIK, dengan nama keluarga “ALBANAFA’AT”, apabila ditulis secara lengkap maka nama saya adalah “ Wan Zalik Albanafa’at ”.Siapakah nama keluarga anda...?
Bagi saudaraku yang mungkin mengetahui sesuatu yang berbeda berkaitan topik ini atau ingin melengkapi tulisan ini, diharapkan koreksi dan partisipasinya, tks
Semoga bermanfaat ....!
